Cari Blog Ini

Rabu, 29 Mei 2013

SPI Khalifah Abu Bakar

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Sejarah kebudayaan dalam islam tidak bisa lepas dari peranan budaya di masa lalu yang membutuhkannya hingga seperti sekarang ini. Budaya-budaya tersebut diwariskan secara turun-temurun dikalangan umat Islam sendiri yang kemudian dalam prakteknya seakan sudah menjadi sebuah tradisi yang beradabtasi atau diambil dari kebiasaan para sahabat rasul dimasa lalu. Dalam pembahasan berikut penulis berupaya untuk menjelaskan tentang peranan para sahabat dalam membentuk suatu kebiasaan yang kemudian selanjutnya menjadi sebuah tradisi yang tidak bias lepas dan secara tidak langsung menjadi salah satu “produk budaya dalam agama islam itu sendiri”.
2. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini agar lebih mudah untuk dipahami maka penulis berupaya untuk memberikan batasan hingga dapat dimengerti dengan jelas isi makalah ini sendiri secara baik dengan rumusan sebagai berikut:
1.      Sejarah singkat Abu Bakar
2.      Proses Pengangkatan Abu Bakar
3.      Berapa Faktor-Faktor Yang Mendasari Terpilihnya Abubakar
4.      Kemajuan Apa Yang Telah Dicapai Oleh Abu Bakar
3. Tujuan
Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini supaya pembaca lebih mengetahui tentang pemerinhahan dimasa Abu Bakar dan Umar dan proses pembentukan Negara Madinah sekaligus memahami bagaimana sistem pemerintahan Abu Bakar dan Umar.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Khalifah Abu Bakar
1. Sejarah singkat Abu Bakar
Abu Bakar As Siddiq lahir pada tahun 568 M atau 55 tahun sebelum hijrah. Dia merupakan khalifah pertama dari Al-Khulafa'ur Rasyidin , sahabat Nabi Muhammad SAW yang terdekat dan termasuk di antara orang-orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Kuhafah at-Tamini.
Pada masa kecilnya Abu Bakar bernama Abdul Ka'bah. Nama ini diberikan kepadanya sebagai realisasi nazar ibunya sewaktu mengandungnya. Kemudian nama itu ditukar oleh Nabi Muhammad SAW menjadi Abdullah bin Kuhafah at-Tamimi. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah SAW karena ia seorang yang paling cepat masuk Islam, sedang gelar as-Siddiq yang berarti 'amat membenarkan' adalah gelar yang diberikan kepadanya karena ia amat segera memberiarkan Rasulullah SAW dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa "Isra Mikraj".
Ayahnya bernama Usman (juga disebut Abi Kuhafah) bin Amir bin Amr bin Saad bin Taim bin Murra bin Kaab bin Luayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik. Ibunya bernama Ummu Khair Salma binti Sakhr. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada neneknya bernama Kaab bin Sa'd bin Taim bin Muarra. Kedua orang tuanya berasal dari suku Taim, suku yang melahirkan banyak tokoh terhormat.[1]
Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang baik dan sabar, jujur, dan lemah lembut, dia merupakan lambang kesucian dan ketulusan hati. Sifat-sifat yang mulia itu membuat ia disenangi oleh masyarakat. la menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW semenjak keduanya masih remaja. Setelah dewasa ia mencari nafkah dengan jalan berdagang dan ia dikenal sebagai pedagang yang jujur, berhati suci dan sangat dermawan, dan ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.
Salah satu dari tradisi Islam itu sendiri adalah tidak lain dengan berdakwah sambil berdagang. Indonesia sendiri memaklumi hal tersebut melalui perdagangan yang mana Islam dibawa dan disiarkan oleh pedagang dari Gujarat India. Sejarah mencatat bahwa rasul sendiri adalah seorang pedagang dan dimasa jahiliyah pun salah seorang sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq berniaga guna mencukupi kebutuhan hidup sembari menyebar luaskan agama Islam setelah beliau masuk Islam[2]
Di masa Jahiliah beliau terkenal sebagai seorang yang jujur dan berhati suci. Tatkala agama Islam dating segeralah dianutnya. Dalam mengembangkan dan menyiarkan agama Islam beliau mendapat hasil yang baik. Banyak pahlawan-pahlawan Islam menganut agama Islam atas usaha dan seruan beliau Abu Bakar.[3]
2. Proses Pengangkatan Abu Bakar
Berita wafatnya Nabi Muhammad SAW, bagi para sahabat dan kaum Muslimin adalah seperti petir di siang belong karena sangat cinta mereka kepada beliau. Apalagi bagi para sahabat yang biasa hidup bersama di bawah asuhan beliau . Mereka paling diperlihatkan adalah beliau, sehingga ada orang tidak percaya akan kabar wafatnya beliau.
Di antaranya adalah sahabat Umar bin Khattab yang dengan tegas membantah setiap orang yang membawa kabar wafatnya beliau, bahkan Umar bin Khattab mengancam akan membunuh barang siapa yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW wafat.
Di saat keadaan gempar yang luar biasa ini datanglah sahabat Abu Bakar untuk menenangkan kegaduhan itu, ia berkata di hadapan orang banyak; "Wahai manusia, siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah wafat, dan barang siapa menyembah Allah, Allah hidup tidak akan mati selamanya".
Setelah kaum Muslimin dan para sahabat menyadari tentang wafatnya Rasulullah SAW, maka Abu Bakar dikagetkan lagi dengan adanya perselisihan faham antara kaum Muhajirin dan Anshar tentang siapa yang akan menggantikan Nabi sebagai khalifah kaum Muslimin. Pihak Muhajirin menghendaki dari golongan Muhajirin dan pihak Anshar menghendaki pihak yang memimpin. Situasi yang memanas inipun dapat diatasi oleh Abu Bakar, dengan cara Abu Bakar menyodorkan dua orang calon khalifah untuk memilihnya yaitu Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah bin Jarrah. Namun keduanya justru menjabat tangan Abu Bakar dan mengucapkan baiat memilih Abu Bakar.
Setelah Rasulullah SAW wafat pada 632 M, Abu Bakar terpilih sebagai khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW dalam memimpin negara dan umat Islam. Waktu itu daerah kekuasaan hampir mencakup seluruh Semenanjung Arabia yang terdiri atas berbagai suku Arab.
Ada beberapa faktor yang mendasari terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, yaitu:
  1. Menurut pendapat umum yang ada pada zaman itu, seorang khalifah (pemimpin) haruslah berasal dari suku Quraisy; pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi "al-aimmah min Quraisy" (kepemimpinan itu di tangan orang Quraisy).
  2. Sahabat sependapat tentang ketokohan pribadi Abu Bakar sebagai khalifah karena beberapa keutamaan yang dimilikinya, antara ia adalah laki-laki dewasa pertama yang memeluk Islam, ia satu-satunya sahabat yang menemani Nabi SAW pada saat hijrah dari Makkah ke Madinah dan ketika bersembunyi di Gua Tsur, ia yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW untuk mengimami shalat pada saat beliau sedang uzur, dan ia keturunan bangsawan, cerdas, dan berakhlak mulia.
  3. Beliau sangat dekat dengan Rasulullah SAW, baik dalam bidang agama maupun kekeluargaan[4] Beliau seorang dermawan yang mendermakan hartanya untuk kepentingan Islam.
Sebagai khalifah Abu Bakar mengalami dua kali baiat. Pertama di Saqifa Bani Saidah yang dikenal dengan Bai 'at Khassah dan kedua di Masjid Nabi (Masjid Nabawi) di Madinah yang dikenal dengan Bai’at A 'mmah.
Seusai acara pembaitan di Masjid Nabawi, Abu Bakar sebagai khalifah yang baru terpilih berdiri dan mengucapkan pidato. la memulai pidatonya dengan menyatakan sumpah kepada Allah SWT dan menyatakan ketidakberambisiannya untuk menduduki jabatan khalifah tersebut. Abu Bakar selanjutnya mengucapkan "Saya telah terpilih menjadi pemimpin kamu sekalian meskipun saya bukan orang yang terbaik di antara kalian. Karena itu, bantulah saya seandainya saya berada di jalan yang benar dan bimbinglah saya seandainya saya berbuat salah. Kebenaran adalah kepercayaan dan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian menjadi kuat dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-haknya seandainya Allah menghendaki dan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah dalam pandangan saya hingga saya dapat merebut hak daripadanya. Taatilah saya selama saya taat epada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, janganlah ikuti saya".[5]
Di masa awal pemerintahan Abu Bakar, diwarnai dengan berbagai kekacauan dan pemberontakan, seperti munculnya orang-orang murtad, aktifnya orang-orang yang mengaku diri sebagai nabi (nabi palsu), pemberontakan dari beberapa kabilah Arab dan banyaknya orang-orang yang ingkar membayar zakat.
Munculnya orang-orang murtad disebabkan oleh keyakinan mereka terhadap ajaran Islam belum begitu mantap, dan wafatnya Rasulullah SAW menggoyahkan keimanan mereka. Mereka beranggapan bahwa kaum Quraisy tidak akan bangun lagi setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Dan mereka merasa tidak terikat lagi dengan agama Islam lalu kembali kepada ajaran agama sebelumnya. Tentang orang-orang yang mengaku diri nabi sebenarnya telah ada sejak masa rasulullah SAW, tetapi kewibawaan Rasulullah SAW menggetarkan hati mereka untuk melancarkan aktivitasnya. Diantara nabi palsu seperti Musailamah Al Kadzab dari Bani Hanifah, Tulaihah bin Khuwailid dari Bani As'ad Saj'ah Tamimiyah dari Bani Yarbu, dan Aswad Al Ansi dari Yaman.
Mereka mengira, bahwa Abu Bakar adalah pemimpin yang lemah, sehingga mereka berani membuat kekacauan. Pemberontakan kabilah disebabkan oleh anggapan mereka bahwa perjanjian perdamaian yang dibuat bersama Nabi SAW bersifat pribadi dan berakhir dengan wafatnya Nabi SAW, sehingga mereka tidak perlu lagi taat dan tunduk kepada penguasa Islam yang baru. Orang-orang yang enggan membayar zakat hanyalah karena kelemahan iman mereka. Terhadap semua golongan yang membangkang dan memberontak itu Abu bakar mengambil tindakan tegas. Ketegasan ini didukung oleh mayoritas umat.
Untuk menumpas seluruh pemberontakan, ia membentuk sebelas pasukan masing-masing dipimpin oleh panglima perang yang tangguh, seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Syurahbil bin Hasanah. Dalam waktu singkat seluruh kekacauan dan pemberontakan yang terjadi dalam negeri dapat ditumpas dengan sukses.
Meskipun fase permulaan dari kekhalifahan Abu Bakar penuh dengan kekacauan, ia tetap berkeras melanjutkan rencana Rasulullah SAW untuk mengirim pasukan ke daerah Suriah di bawah pimpinan Usamah bin Zaid. Pada mulanya keinginan Abu Bakar ditentang oleh para sahabat dengan alasan suasana dalam negeri sangat memprihatinkan akibat berbagai kerusuhan yang timbul. Akan tetapi setelah ia meyakinkan mereka bahwa itu adalah rencana Rasulullah SAW, akhirnya pengiriman pasukan itu pun disetujui.
Langkah politik yang ditempuh Abu Bakar itu ternyata sangat strategis dan membawa dampak yang positif. Pengiriman pasukan pada saat negara dalam keadaan kacau menimbulkan interpretasi di pihak lawan bahwa kekuasaan Islam cukup tangguh sehingga para pemberontak menjadi gentar. Di samping itu, bahwa langkah yang ditempuh Abu Bakar tersebut juga merupakan taktik untuk mengalihkan perhatian umat Islam dalam perselisihan yang bersifat intern. Pasukan Usamah berhasil menunaikan tugasnya dengan gemilang dan kembali dengan membawa harta rampasan perang yang berlimpah. Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Madinah. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan) dan pahlawan yang banyak berjasa dalam perang tersebut adalah Khalid bin Walid.[6]
Bahwa kekuasaan yang dijalankan oleh Abu Bakar adalah sebagaimana yang dijalankan pada masa Rasulullah Saw yaitu bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Meskipun demikian, Abu bakar selalu mengajak para sahabat untuk bennusyawarah.[7]
3. Kemajuan-kemajuan yang dicapai Abu Bakar
Kemajuan yang telah dicapai pada masa pemerintahan Abu Bakar selama kurang lebih dua tahun, antara lain:
1. Perbaikan sosial (masyarakat)
2. Perluasan dan pengembangan wilayah Islam
3. Pengumpulan ayat-ayat Al Qur'an
4. Sebagai kepala negara dan pemimpin umat Islam
5. Meningkatkan kesejahteraan umat.
Perbaikan sosial yang dilakukan Abu Bakar ialah usaha untuk menciptakan stabilitas wilayah Islam dengan berhasilnya mengamankan tanah Arab dari para penyeleweng (orang-orang murtad, nabi-nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat). Adapun usaha yang ditempuh untuk perluasan dan pengembangan wilayah Islam Abu Bakar melakukan perluasan wilayah ke luar Jazirah Arab. Daerah yang dituju adalah Irak dan Suriah yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan Islam. Kedua daerah itu menurut Abu Bakar harus ditaklukkan dengan tujuan untuk memantapkan keamanan wilayah Islam dari serbuan dua adikuasa, yaitu Persia dan Bizantium. Untuk ekspansi ke Irak dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan ke Suriah dipimpin tiga panglima yaitu : Amr bin Ash, Yazid bin Abu Sufyan dan Surahbil bin Hasanah.
B.     Wafatnya
Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah). Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPUALAN
1.      Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan: Dapat kita ketahui bahwa salah satu khulafaur Rasyidin itu yaitu: Abu Bakar Ash Shhiddiq, dia adalah para khalifah pengganti Rasulullah. Dan banyak sekali jasa-jasa yang telah dia lakukan untuk islam, mulai dari penaklukan-penaklukan dan perluasan daerah, mempersatukan banyak Negara menjadi satu Negara yaitu Negara Islam dan ini sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah, dan lain-lain.
2.      Prinsip-prinsip dalam Islam, dilukiskan Abu Bakar dengan mendorong kaum Muslimin memerangi orang-orang yang ingin menghancurkan Islam seperti halnya orang-orang murtad, orang-orang yang enggan membayar zakat, dan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi.
B. SARAN
Dengan menganalisa dari berbagai sumber kepustakaan yang sudah saya pelajari. Saya sadar masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Hal ini dikarenakan minimnya buku referensi yang saya pelajari, serta keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan guna perbaikan dalam penyusunan berikutnya.








[1] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam I, (Jakarta: PT Ichtiar van Hoeve, 1997), hlm. 37

[2] A. Sya’abi, Sejarah Kebudayaan Islam 1, (Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru, 2007), h. 195.
[3] Ibid. h. 195
[4] Dr. Mohd Fachruddin Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hlm. 77
[5] Ensiklopedi Islam, op.cit., hlm. 39
[6] Dr. Badri Yatim. M. A.. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 3
[7] Ibid., hlm. 36

Selasa, 28 Mei 2013

Qawaid Al-fiqhyyah

Dalam kajian fiqih mungkin tidak asing lagi bagi kita mendengar dengan sebutan Qawaid Al-Fiqhiyyah, yg mana qawaid tersebut menjadi rujukan oleh penggiat fiqih didalam menentukan sebuah kebijakan dalam suatu Hukum.
jumlah qawaid fiqhiyaah sendiri terbilan  cukup banyak jika kita  lihat didalam kitab-kitab besar seperti karangan Imam Asy-Syuthi dalam kitab beliau yg berjudul Asybah Wa An-Nazhair. cukup sulit bagi kita yg berkemampuan dibawah rata-rata menghafal semua qaidah tersebut, dan sangat tidak mungkin pula kalau kita selalu membawa kitab-kitab qawaid dalam bepergian kita. maka dari itu saya sedikit meringkas qawaid yg lazim kita temui dalam kajian fiqhiyaah, mudahan dengan ringkasan ini yg saya format dengan bentuk Tabel bisa memudankan kita agar selalu bisa membawanya. dan pula tabel ini sudah saya jadikan format JPG. jadi sahabat semua bisa langsung memprint Out nya.........
Dan mungkin dalam tulisan tersebut banyak ditemukan kekurangan dan kesalah dari penulis sendiri yaitu saya pribadi, jadi saya sangat mengharapkan bagi sahabat untuk memperbaikinya. semoga tulisan tersebut bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Media Pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Media,  merupakan  sebuah  kata  yang  berasal  dari  bahasa  Latin  medius  yang  berarti pengantar  atau  perantara.  Gerlach  &  Ely  (dalam  Azhar  Arsyad) Mengatakan  bahwa media  apabila  dipahami  secara  garis  besar  adalah  manusia,  materi,  kejadian,  yang membangun  kondisi  yang  membuat  siswa  mampu  memperoleh  pengetahuan, keterampilan,  atau  sikap.  Dalam  hal  ini,  guru,  buku  teks,  dan  lingkungan  sekolah merupakan  media. 
Senada  dengan  di  atas,  AECT  (Association  of  Education  and Communication  Technology,  dalam  Azhar  Arsyad)  memberi  batasan  tentang  media sebagai  segala  bentuk  dan  saluran  yang  digunakan  untuk menyampaikan  pesan  atau informasi. Jelaslah bahwa media merupakan sebuah perantara atau pengantar seperti arti  harfiah bahasa latin tadi.
B.     Tujuan Penulisan
-          Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing
-          Menambah khajanah ilmu pengetahuan khususnya dibidang media pembelajaran
C.    Rumusan Masalah
-          Mengetahui pengertian media pembelajaran
-          Mengetahui jenis-jenis media pembelajaran
-          Mengetahui manfaat media pembelajaran
-          Mengetahui karakteristik media pembelajaran










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Media Pembelajaran
a.      Pengertian Umum
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar merupakan komunikasi antar  individu/kelompok untuk memberikan suatu ilmu pengetahuan. Agar maksud si narasumber dalam hal ini guru tersampaikan dengan baik, dibutuhkan suatu media pembelajaran.
b.      Pengertian Menurut Para Ahli
-          Briggs  (1977)  Media  Pembelajaran  adalah  sarana  fisik  untuk  menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti: buku, film, video dan sebagainya.
-          National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah  sarana  komunikasi  dalam  bentuk  cetak maupun  pandang-dengar,  termasuk teknologi perangkat keras.
-          Schramm  (1977)  mengemukakan  bahwa  media  pembelajaran  adalah  teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
-          Latuheru(1988:14),  menyatakan  bahwa  media  pembelajaran  adalah  bahan,  alat, atau  teknik  yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar  proses  interaksi  komunikasi  edukasi  antara  guru  dan  siswa  dapat  berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.
-          Djamarah  (1995  :  136)  “Media  adalah  alat  bantu  apa  saja  yang  dapat  dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”
-          Purnamawati  dan  Eldarni  (2001  :  4  sumber  tidak  diketahui)  yaitu: “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”
Dari  pendapat  di  atas  disimpulkan  bahwa media  pembelajaran  adalah  segala  sesuatu yang dapat menyalurkan  maksud/pengetahun  narasumber  agar  para  audiens pendengar  akan  tertarik  untuk mendengar  dan merangsang  pikiran serta kemauannya untuk belajar atau memperhatikan. 
B.     Jenis–Jenis Media Pembelajaran
Media  pembelajaran  banyak  jenis  dan  macamnya.  Dari  yang  paling  sederhana  dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang  diproduksi  pabrik.  Ada  yang  sudah  tersedia  di  lingkungan  untuk  langsung dimanfaatkan  dan  ada  yang  sengaja  dirancang.  Namun,  dapat  kita  golongkan  secara garis besar ada dua, yaitu cetak dan noncetak.
-          Cetak
Maksud dari media cetak adalah, segala bentuk media yang dicetak baik secara massal atau  tidak,  biasanya  berupa  kertas  dan  berisi  pengetahuan  dan  maksud  yang  ingin diutarakan oleh penulis. Contohnya: Buku pelajaran, ensiklopedi, modul, pamflet, dll
-          Noncetak
Merupakan  media  yang  umumnya  sebuah  benda  buatan  manusia  (kecuali  objek percobaan, model, dan spesimen) yang tidak dicetak di atas kertas namun dapat dilihat.
Ada beberapa penggolongan media noncetak:
1.      Audio: Kaset audio, rekaman, dll
2.      Visual: Overhead  Projector,  Slide,  Slide  presentasi, Gambar/foto,  Video,  rekaman  dari TV, Video CD/DVD, dll.
3.      Objek fisik: Model, spesimen, objek percobaan.
4.      Buatan tangan narasumber.
Selain  itu,  Rudy  Bretz  (dalam  Miftahul  Jannah,  2011)  menggolongkan  media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
1.      Media audio
2.      Media cetak
3.      Media visual diam
4.      Media visual gerak
5.      Media audio semi gerak
6.      Media visual semi gerak
7.      Media audio visual diam
8.      Media audio visual gerak
Hardjito mengatakan beberapa jenis media pembelajaran:
1.      Cetak
2.      Transparansi (Slide Presentasi)
3.      Audio
4.      Slide Suara
5.      Video
6.      Multimedia Interaktif
7.      E-learning
C.    Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar  interaksi antara guru dengan  siswa  sehingga  kegiatan  pembelajaran  lebih  efektif  dan  efisien.  Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
1.      Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan.
Dengan  bantuan  media  pembelajaran,  penafsiran  yang  berbeda  antar  guru  dapat dihindari  dan  dapat  mengurangi  terjadinya  kesenjangan  informasi  diantara  siswa dimanapun berada.
2.      Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media  dapat menampilkan  informasi melalui  suara,  gambar,  gerakan  dan warna,  baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana  belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3.      Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan  terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan  tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4.      Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan  tenaga  seminimal  mungkin.  Guru  tidak  harus  menjelaskan  materi  ajaran  secara berulang-ulang,  sebab  dengan  sekali  sajian  menggunakan  media,  siswa  akan  lebih mudah memahami pelajaran.
5.      Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media  pembelajaran  dapat membantu  siswa menyerap materi belajar  lebih mendalam dan  utuh.  Bila  dengan  mendengar  informasi  verbal  dari  guru  saja,  siswa  kurang memahami  pelajaran,  tetapi  jika  diperkaya  dengan  kegiatan  melihat,  menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
6.      Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan  belajar  dengan  lebih  leluasa  dimanapun  dan  kapanpun  tanpa  tergantung seorang  guru.Perlu  kita  sadari  waktu  belajar  di  sekolah  sangat  terbatas  dan  waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
7.      Media  dapat  menumbuhkan  sikap  positif  siswa  terhadap  materi  dan  proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8.      Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru  dapat  berbagi  peran  dengan  media  sehingga  banyak  memiliki  waktu  untuk memberi  perhatian  pada  aspek-aspek  edukatif  lainnya,  seperti  membantu  kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain 
Hamalik mengemukakan  bahwa  pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang  baru,  membagkitkan  motivasi  dan  rangsangan  kegiatan  belajar,  dan  bahkan membawa pengaruh  –  pengaruh  psikologis. Senada dengan pendapat di  atas, Yunus  ( dalam  Azhar  Arsyad,  ed.  Revisi)  mengemukakan  yang  artinya:  “bahwasanya  media pembelajaran paling besar pengaruhnya bagi indera dan lebih menjamin pemahama.
Tak  ketinggalan, Levie &  Lentz  (Dalam Azhar Arsyad,  ed. Revisi) mengelompokkan fungsi media pembelajaran, khususnya media visual menjadi empat yaitu:
1.      Fungsi  atensi.  Maksudnya,  menarik  dan  mengarahkan  perhatian  para  siswa untuk berkonsentrasi  kepada  isi pelajaran  yang berkaitan dengan makna  visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
2.      Fungsi afektif, media visual dapat  terlihat dari  tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar.
3.      Fungsi  kognitif,  media  visual  terlihat  dari  temuan– temuan  penelitian  yang mengungkapkan  bahwa  lambing  visual  atau  gambar memperlancar  pencapaian tujuan untuk memahami  dan mengingat  informasi  atau pesan  yang  terkandung dalam gambar.
4.      Fungsi  kompensatoris, media  pembelajaran  terlihat  dari  hasil  penelitian  bahwa media  visual  yang  memberikan  memberikan  konteks  untuk  memahami  teks, membantu  siswa  yang  lemah  dalam  membaca,  untuk  mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.
Selain  itu,  kontribusi  media  pembelajaran  menurut  Kemp  dan  Dayton  (dalam  azhar Arsyad, ed. Revisi) adalah sebagai berikut:
1.      Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar.
2.      Pembelajaran dapat lebih menarik.
3.      Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar.
4.      Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek.
5.      Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.
6.      Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan.
7.      Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran dapat ditingkatkan.
8.      Peran guru mengalami perubahan ke arah yang positif.
Kesimpulan oleh Azhar Arsyar
1.      Media Pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2.      Media  pembelajaran  dapat  meningkatkan  dan  mengarahkan  perhatian  anak sehingga  dapat  menimbulkan  motivasi  belajar,  interaksi yang lebih lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri – sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3.      Media pembelajaran dapat mengatasi  keterbatasan indera, ruang dan waktu.
D.    Karakteristik Media Pembelajaran
Setiap  media  pembelajaran  memiliki  karakteristik  tertentu, yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi. Misalnya, Schramm melihat karakteristik media  dari  segi  ekonomisnya,  lingkup  sasaran  yang  dapat  diliput,  dan  kemudahan kontrolnya oleh pemakai. Karakteristik media  juga dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat indera. Dalam hal  ini Kemp  (1975)  menyatakan,  pengetahuan  mengenai  karakteristik  media  pembelajaran sangat penting artinya untuk pengelompokan dan pemilihan media.
Karakteristik media merupakan  dasar  pemilihan  media  yang  disesuaikan  dengan  situasi  belajar  tertentu. Ada  tiga  karakteristik  media  berdasarkan petunjuk penggunaan media pembelajaran untuk  mengantisipasi  kondisi  pembelajaran  di  mana  guru  tidak  mampu  atau  kurang efektif dapat melakukannya.
Ketiga karakteristik atau ciri media pembelajaran  tersebut adalah:
1.      Ciri fiksatif, yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek.
2.      Ciri  manipulatif,  yaitu  kemampuan  media  untuk  mentransformasi  suatu  obyek, kejadian  atau  proses  dalam  mengatasi masalah  ruang  dan  waktu.  Sebagai  contoh, misalnya proses  larva menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan waktu yang lebih singkat (atau dipercepat dengan teknik time-lapse recording).  Atau sebaliknya,  suatu  kejadian  /  peristiwa  dapat  diperlambat penayangannya  agar  diperoleh  urut-urutan  yang  jelas  dari  kejadian  /  peristiwa tersebut.
3.      Ciri distributif,  yang menggambarkan  kemampuan media untuk mentransportasikan obyek  atau  kejadian  melalui  ruang,  dan  secara  bersamaan  kejadian  itu  disajikan kepada sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa diri – ciri media pembelajaran:
1.      Media dapat merekam dan merekonstruksi peristiwa.
2.      Media  dapat  memanipulasi  waktu,  tempat,  dan  dimensi  fisik  obyek  yang dipelajari.
3.      Media  dapat  mendistribusikan  pengalaman  belajar  dalam  berbagai  setting lingkungan.








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan kesimpulan dari pendapat para ahli diatas disimpulkan  bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan  maksud/pengetahun  narasumber  agar  para  audiens pendengar  akan  tertarik  untuk mendengar  dan merangsang  pikiran serta kemauannya untuk belajar atau memperhatikan. 
Media pembelajaran juga mempunyai karakteristik, yaitu:
1.      Media dapat merekam dan merekonstruksi peristiwa.
2.      Media dapat memanipulasi waktu, tempat, dan dimensi fisik obyek yang dipelajari.
3.      Media  dapat  mendistribusikan  pengalaman  belajar  dalam  berbagai  setting lingkungan.










 






DAFTAR PUSTAKA
Ø  Arsyad, Azhar. Ed. Revisi. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers
Ø  Daryanto. 2011. Media Pembelajaran. Bandung: PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.
Ø  Hardjito. Karakteristik Media Pembelajaran (e-book).