Cari Blog Ini

Kamis, 12 Mei 2016

jauh dari kebisingan mungkin impian semua manusia yang ada di alam ini, namun apakah itu mungkin bisa terjadi mengingat perkembangan jaman yang kian hari semakin menindih ranting-ranting pohon, teringat dengan sosok sahabat yang dulu pernah ku jahili, aku pernah melakukan dosa terhadapnya dengan memasukan pakaian bekas kedalam tas dia, maklum kebiasaan usil kami sesama santri saat di pondok kalalu ada teman yang mau pulang kampung dan di dekatnya ada tas tempat pakaian sudah pasti kami taruh pakaian bekas, sehingga pakaian bekas tersebut ikut kebawa sampai kerumah dia, hal itu memang sangat konyol, tapi dari situlah kami belajar bagaimana menjualin persahabatan meski kami berbeda daerah tanah kelahiran satu sama lainnya.

Selasa, 24 Maret 2015

Akik berlafazkan Lillaah

Batu langka berlafazkan Lillaah bagi yg berminat silahkan hubungi 082157211309

Sabtu, 14 Februari 2015

Gunung halau-halau








Alhamdulillahirabbil’alamin segala puji bagi Allah yang telah menjadikan bumi ini sebagai tempat bersujud kepada-Nya.
Sholawat dan salam selalu kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad S.A.W karena berkat beliaulah kita mendapat penerangan sebagai khalifah dimuka bumi, dan kepada sahabat, para pengikut beliau hingga akhir zaman.
Dalam dunia kepecintaan alam tidak asing lagi dengan yang namanya pendakian gunung, baik itu  tracking maupun hiking, setiap tahunnya di kalimantan selatan selalu diadakan kegiatan pendakian puncak tertinggi gunung halau-halau 1901 mdpl yang terletak di kabupaten Hulu Sungai Tengah, tepatnya disaat memperingati HUT RI 17 Agustus yang akrab disebut ekspedisi merah putih. Adapun  yang menjadi panitia pelaksana pada pendakian tahun ini KPA Tapak Barito yang berkesekretariatan di kota Marabahan kabupaten Batola.
Seperti  tahun-tahun lalunya  ORGANISASI X-PAS BORNEO kembali mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti kegiatan ekpedisi merah putih tersebut kali ini diwakili oleh tiga orang dari angkatan simpai lang’am sembilan, sebut saja namanya M. Zainal ilmi yang dipercaya sebagai ketua team rombongan sedangakan dua rekannya  adalah M. Zainal Abidin dan Maidhar Rahim.  Awal keberangkatan pada hari rabu tanggal 14 agustus 2014, pukul 12.37 wita dari kota tercinta Martapura langsung diantar oleh sonior X-PAS BORNEO menggunakan mobil  yang sudah berumur namun tidak menyurutkan semangakat kami untuk mengikuti Technical Meeting dikota Marabahan, setelah melewati jalan yang terasa penat dan cukup melalahkan kami pun sampai dikota Marabahan tempat berlangsung kegiatan dimulai yakni dikantor ruang rapat bupati Batola, tepatnya pada pukul 15.34. wita. Sapaan angin sungai marabahan menghembuskan aroma semangat hingga tertanam kembali pupuk spirit dalam jiwa kami yang akan berangkat berpetualang kealam bebas mengikuti pendakian. Tidak lama kami bersantai ditepian sambil menikmati pemandangan alam yang diberikan tuhan tiba-tiba seruan dari panita untuk berkumpul kedalam ruanga TM yang telah  disediakan, kami pun bergegas menuju ruang rapat tersebut dengan penuh goncangan semangat, berbagai penjelasan dan aturan pendakian yang disampaikan oleh panita kami serap dan cerna sebagai modal untuk keselamatan dan kenyamanan sebagai peserta pendaki, banyak materi yang dibahas dan dimusyawarahkan baik peserta maupun panitia pelaksana hingga acara TM berakhir pada pukul 17.46 wita. Sebelum para sonior dan saudara kami kembali kemartapura mereka menyempatkan untuk makan bersama sebagai tanda perpisahan sekaligus hadiyah untuk terus semangat. Rasa haru dan senang ditambah banyaknya rasa lapar menggumpal menjadi campuran yang tidak bisa ditulis atau kami ukir lewat apa pun, yang ada saat itu suasana canda gurau diwarung makan pelabuhan.
Selesai makan  perpisahan pun menjadi momen paling berharga dan menakutkan, perpisahan itu pun terjadi begitu saja tanpa banyak keraguan kami harus benar-benar siap menjalankan tugas dan tanggung jawab membawa nama ORGANISASI X-PAS BORNEO ke puncak tertinggi  kalimantan selatan. Malam pun mulai menampakan sosok gelapnya maka kami bertiga memutuskan untuk berangkat kepenginapan yang sudah disediakan oleh panita, karena jadwal keberangkatan pendakian besok harinya.
Hiruk-pikuk dan kicauan angin liar menyelimuti malam tuli tanpa terdengar lagi suara desahan nafas manusia, rupanya malam itu sebagian peserta pendaki sangat memanfaatkan waktu istirahatnya sebaik mungkin walau tidak sedikit pula ada peserta yang sedang asyik berbincang dan sibuk berkenalan kepada sesama peserta lainnya. Sebagai mahhluk sosial kami pun ikut nimbrung ditengah kumpulan manusia asing yang belum kami kenal, dengan berbagai canda gurau ala has andalan kami berhasil memikat perhatian peserta lainnya untuk bisa diajak bergabung dalam gurauan yang terdengar konyol dan tidak masuk akal. Serangan kantuk yang membombardir mata kami tidak bisa lagi ter-indahkan, hamparan karpet tanpa bantal berhasil kami lumpuhkan untuk alas tidur malam itu.
Kebiasaan bangun pagi tanpa bantuan alaram memanggil kami untuk bangkit mempersiapkan pendakian, antrian mandi pun cukup ketat, dan akhirnya penulis memutuskan untuk surviv ala kota, hee yaitu mencari tempat mandi yang tidak ada antriannya, setelah kesana kemari mencari tempat mandi musholla pun menjadi keputusan bijak untuk bisa menyegarkan badan dan bathin untuk sholat subuh dimuholla tersebut, ringkas kisah pukul 8.00 kami berangkat menuju lapangan kantor bupati batola untuk mengikuti kegiatan upacara sekaligus pelepasan yang langsung dilakukan oleh Bupati Batola, kebetulan hari itu bertepatan peringatan HUT Kal-Sel yang ke-64 Tahun, suasana pun semakin ramai dan semakin membuat semangat baru berkembang subur dihati kami.
Setelah upacara dilakukan dengan di iringi pelepasan peserta pendakian merah putih semua peserta berfoto bareng dengan anggota penjabat setempat, sengatan matahari pun mulai menampakan kesangarannya hingga waktu jeda tiba kami menyempatkan untuk makan dulu diwarung yang ada dipelabuhan, sambil menunggu kapal jemputan kami juga disibukan dengan berkenalan dengan beberapa peserta lainnya yang begitu ramah. Panitia kali ini sangat luar biasa, karna jalur rute pendakian melewati sungai yang berlabuh dari kota marabahan menuju kota Nagara.
Tidak selang waktu lama kapal wisata yang berkapasitas 200 orang lebih sudah tiba merapat dipelabuhan Marabahan dan itu pertanda keberangkatan melewati jalur sungai akan segera dimulai, pada pukul 11.35 wita kapal yang kami tumpangi berlabuh dari pelabuhan menuju Nagara, sungguh sangat menyenangkan disepanjang jalur sungai dimanjakan oleh pemandangan yang tidak biasa, barisan rumah penduduk tampak seperti barisan tentara militer rapi yang siap menghalangi serangan ombak, belum lagi lambayan pohon rumbiya (bahasa daerah) yang disepanjang pesisir sungai senantiasa membuat kami tersenyum manis.
Suara sangar dari berisik mesin kapal yang kami tumpangi sepertinya kurang bersahabat ditelinga, hingga kebosanan  berhasil menodai keperewanan senyum kami,  gelisah dan rasa lapar ikut andil menjajah suasana waktu itu, kami pun mulai merasa jenuh tapi tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar sosok wanita dengan paras cantik ditambah cara berpakaian yang sederhana dengan balutan senyum malu berhasil mehipnotis pikiran penulis, senyum yang semula ternoda kini bisa kembali seperti semula bahkan membuat lebih indah lagi suasana hati penulis waktu itu, dua teman penulis tidak tahu kalau waktu itu aku sedang bertatap senyum dengan si wanita tersebut, sepertinya rahasia ini harus disimpan pribadi saja.
Perjalannan yang tadinya sudah mulai membosankan menjadi indah dan menyenangkan dengan tatapan dan senyum wanita itu, ada sedikit niat  hati untuk bisa berkenalan dengannya,  tapi keraguan menghantui dan menakut-nakuti tidak akan berhasil, akhirnya keputusan untuk disimpan hingga penulis merasa yakin berhasil. Sudah 5 jam lebih kami berada didalam kapal yang cukup berisik itu, penulis memutuskan untuk naik keatas atap kapal untuk bisa melihat langsung pemandangan perkampungan, kebetulan waktu itu kami sudah memasuki daerah Nagara, tidak disangka ternyata sosok pemilik senyum manis itu juga berada diatas, penulis pun semangat untuk menjalankan aksi nakalnya untuk berkenalan, dengan bermodalkan nyentik dan sedikit narsis langsung memberanikan diri untuk ikut foto bareng bersama si Dia dan teman-temannya, eh ternyata mereka semua menyambut hangat perteman itu. Yaa dengan penuh rasa gembira penulispun harus melancarkan aksi selanjutnya.
Dari kejauhan sudah nampak dermaga Nagara yang siap menyambut kapal kami untuk menepi disana, dan tepat pukul 17.32 kapal kami berlabuh dikota Nagara, ternyata perjalan ini masih panjang, karena kami baru mengikuti rute air, sekarang kami akan dihadapkan dengan yang namanya rute darat dengan menumpangi mobil truk. Yaah suasana duka hati pun tidak bisa lagi dipungkiri, mau tidak mau, siap tidak siap kami harus mau dan ikhlas, untung saja rata-rata dari kami sudah terbisasa dengan hal seperti itu, maklum saja, punulis sendiri dari kalangan orang biasa yang sudah sangat terbiasa dengan kedaaan seperti itu.
Sebelum  azan sholat Isya berkomandang kami pun melanjutkan rute keberangkatan yang masih jauh, asyik kali ini naik mobil truk yang sangat pengap dan bau, tapi ada satu seseorang yang membuat penulis bersemangat, ternyata si pemilik senyum itu satu truk dengan kami, suasana pun menjadi asyik tanpa terasa, yang namanya rezeki memang tidak kemana heee, pukul 00.23 kami sudah sampai didesa batu kambar, sebelum melanjutkan perjalanan kedesa kiyu kami menyempatkan makan dulu diwarung warga, perut pun sudah terasa jejal dan siap untuk berjalan kaki melanjutkan perjalanan kedesa kiyu yang direncanakan akan menginap dulu dibalai yang sudah disiapkan oleh panitia. Pendakian malam pun dimulai dengan bantuan senter dikepala kami dengan semangat perjuangan berhasil sampai desa kiyu pada pukul 01.02 wita, tidak ambil pusing sepertinya rasa penat sudah menggumpal kami pun langsung mengambil tempat peristirahatan didalam balai.
Subuh Jum’at tanggal 15 Agustus penulis memberanikan diri untuk mencicipi hidangan air sungai desa kiyu yang sangat dingin dengan menyelamkan diri kedasar sungai dangkal tersebut, seperti duduk didalam kulkas rasanya kalau mandi disubuh buta disana, pukul 8.00 kami pun memulai pendakian sesunggunya yaitu menuju sungai karuh  tentu setelah sarapan diwarung warga.
Dengan ayunan dan lambaian kaki yang masih kuat pendakian kami pun sudah dimulai, ini merupakan awal pendakian yang sesungguhnya, jalan dan bukit tinggi silih berganti, suara kicauan burung yang begitu merdu terdengar seperti sedang menertawakan perjalanan kami, huuuh kami pun sesekali menyempatkan untuk istirahat, dan sesekali menyempatkan untuk bercanda untuk membangun motivasi dan menambah semangat sesama kami. Tanpa terasa setelah melewati hutan rimbun dengan lahan bukit dan sungai ternyata kami sudah menghabiskan waktu berjalan lebih dari 3 jam, rasa letih dan lapar pun kembali datang tanpa rasa kasihan, dengan bantuan motivasi dari sesama anggota kayakinan kami pun berhasil menyampaikan kami ke sungai karuh, tepatnya pada pukul 12. 34 wita.  Betapa bahagia waktu itu disana sudah ada warung warga terpasang kokoh seperti gedung tanpa dinding, tanpa banyak fikir kami pun memesan makanan dan yang paling membahagiakan ternyata disitu para warga juga menjual es, sungguh kenikmatan dan kebahagian yang tak terlupakan. Bermodalkan isi perut yang sudah terisi kembali, kami pun mendirikan tenda sebagai tempat istirahat malam ini, hitung-hitung untuk memulihkan tenaga kami yang sudah terkuras habis.
Malam pun kembali datang dengan kekhasannya siap menyambut kami untuk beristirahat, tapi kami tidak akan melewatkan malam ini hanya untuk tidur dan makan saja, kali ini kami akan gunakan untuk bersilaturrahmi ketenda-tenda teman-teman peserta lainnya, dengan tujuan saling berkenal-kenalan, siapa tahu ada yang cocok dihati. Visi itu pun kami lakukan tanpa keraguan sedikit pun, pertambahan koutu teman menjadi semakiin padat waktu itu, tidak hanya laki-laki, perempuan pun kami ajak berkenalan dan saling tukar stiker organisasi masing-masing. Sudah merasa puas mengunjungi tenda-tenda peserta lainnya, kami pun kembali ketenda untuk melakukan rapat evaluasi, ini lah yang kami lakukan setelah dan sebelum pendakian untuk mengabil keputusan tentang teknis dan strategi pendakian besok harinya.
Kini pagi mulai nakal kepada kami tanpa kompromi waktu, pagi pun memberikan sapaan sangar yang membuat tidur kami terusik, bukannya kami marah atau benci dengan pagi, bahkan kami bersyukur pagi begitu perhatian kepada kami, kesetiaannya membangunkan kami untuk berangkat lebih awal pada hari sabtu tanggal 16 Agustus, sesuai kesepakatan rapat evaluasi tadi malam kami akan berangkat dari sungai karuh pada pukul 07.30. kesepakatan itu pun kami lakukan tanpa menghianati kesepakatan rapat. Kali ini jalur pendakian yang sangat terjal, bukitnya begitu sangar, tinggi dan tanpa ada tawaran untuk turun, jika pun ada itu hanya bonus saja.
Hujan keringat bercampur pacuan jantung terdengar sudah tidak normal lagi membuat stamina kami mulai berkurang, sedangakan perjalanan masih amat jauh dan sangaaat jauh sekali,  hal seperti ini harus bisa kami taklukan, kami malu jika sebagai organisasi pecinta alam harus kalah dengan keadaan seperti ini, kami harus menunjukan bahwa kami bertiga kuat dan bisa mengibarkan bendera X-PAS BORNEO di puncak tertinggi kalimantan selatan pada tanggal 17 Agustus besok.
Kekosongan air dan dahaga membuat kami seolah berada ditengah hampaaran gurun yang sejuk dan  rimbun, hanya semangat dan keyakinan yang tersisa, beruntung saja waktu itu masih ada tempat untuk mengisi air dan ini merupakan tempat dimana kita bisa mengisi air terakhir kalinya karena diatas sana sudah tidak ada lagi sumber air yang bisa memanjakan tenggorakan kala dahaga datang.
Pada pukul 15.45 kami berhasil sampai di Penyaungan yang sudah dipadati oleh tenda-tenda peserta pendaki dan panitia, terpaksa kami harus mencari tempat lapang dan landai untuk mendirikan tenda, awalnya kami berencana langsung menuju puncak yang jaraknya tinggal sedikit lagi, tapi salah satu dari anggota kami sudah merasa tidak kuat lagi untuk melanjutkan pendakian keatas terpaksa kami harus menginap di penyaungan.
Suhu di penyaungan cukup lihai memainkan getaran tangan, kaki dan gigi kami, ditambah awan  lewat tanpa pormisi membuat getaran sampai ketulang sendi, sungguh pengalaman hebat buat kami bertiga. Menjelang fajar disubuh tanggal 17 Agustus 2014 tepat pukul 04.57 kami bertiga ditemani  pecinta alam lainnya memulai pendakian terakhir, tanpa beban carrier cukup baermodal setengah liter air, Alhamdulillah dengan rahmat Allah pada pukul 05.25  kami bertiga berhasil mengibarkan Bendera ORGANISASI X-PAS BORNEO di puncak tertinggi Kalimantam Selatan Gunung Halau-halau 1901 mdpl.












Pulau Sembilan Kota baru

perjalanan yang sangat melelahkan, namun terbayar dengan pesona alam dari laut hingga hamparan pegunungan yang masih asri, unik nya banyaknya pulau-pulau yang masih perawan di daerah sini, semoga saja kelak tidak ada tangan-tangan jahil yang mengarok kekayaan bumi saijaan ini.














Minggu, 13 Juli 2014

Minggu, 18 Mei 2014

Pengalaman KKN

selamat sore sahabat setia. alhandulillah tepat tanggal 13 Mei kemarin akhirnya saya selesai juga melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) walau hanya Dua Bulan tapi kegelisan hati jauh dari perkara biasa membuat saya banyak mendapatkan pengalaman baru, okeei deh kali ini saya ingin berbagi pengalaman buat pembaca sekalian selama saya KKN.
tak jauh berbeda dengan mahasiswa lainnya sudah barang tentu KKN adalah suatu kegiatan terakhir untuk pengadian kepada masyarakat yg termaktub dalam Tri-Darma perguruan tinggi, jangan membuat saya merasa KKN ini paling berharga adalah kegiatan yang singkat namun banyak hal baru yang saya dapat disana, slah satunya .......................... capek sob.. saya tinggal tiduuur dulu yaah heeee

Jumat, 10 Januari 2014

Pulau Kembang Pulaunya Monyet


kalimantan selatan mempunyi sebuah pulau kecil yang dipenghuni oleh ribuan monyet-monyet lucu dan juga sedikit nakal, walau jaraknya tidak begitu jauh dari banjarmasin sendiri yg merupakan ibu kota kalimantan selatan namun akhir-akhir ini pengunjung sedikit berkurang, mungkin karna berkurangnya alat tranfortasi laut semakin minim, maka ini adalah tugas untuk para pemerintah sendiri agar suatu saat pulam kembang tersebut menjadi objek wisata yang sangat ramai dikunjungi para wisatawan baik ragional mau pun nasional bahkan internatioal.

Senin, 29 Juli 2013

Dinasti Safawi Di Persia



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam mulai dikenal oleh masyarakat Persia semenjak Rasulullah Saw mengirim surat kepada Raja Kisra dari Dinasti Sasan pada tahun 8 H/630 M. Akantetapi secara resmi Islam masuk ke Persia pada zaman Khalifah Abu Bakar, dengan keberhasilan menaklukkan Qadisiah sekaligus sebagai ibu kota Dinasti Sasan pada tahun 637 M. Progress ekspansi wilayah ke Persia dilanjutkan pada masa Dinasti Umayah dengan menaklukkan wilayah-wilayah di Persia sehingga luas wilayahnya hampir menyamai luas kekuasaan kemaharajaan Persia yang sebelumnya ditaklukkan Iskandar Agung.
Pasca serangan tentara Mongol terhadap kekhilafahan Abbasiyah di Baghdad, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran. Wilayah kekuasaannya terpecah dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Kondisi politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah
muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar (1500-1800 M) : Usmani di Turki, Safawi di Persia, dan Mughal di India.
Kerajaan Usmani, di samping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya. Di saat kekuasaan Islam di bawah kepemimpinan Daulah Usmani dan sedang mengalami puncak kejayaannya, di tempat lain muncul benih-benih kekuatan baru, Dinasti Safawi di Persia baru berdiri. Melalui makalah ini penulis akan memaparkan mengenai eksistensi dinasti Safawi, yang melingkupi beberapa pembahasan yaitu; Pertama, Sejarah Berdirinya Dinasti Safawi. Kedua, Perkembangan Dinasti Safawi . Ketiga, Kemajuan Dinasti Safawi . Dan Keempat , Kemunduran Dan Akhir Dinasti Safawi .



                                 

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Berdirinya Dinasti Safawi Di Persia
Tepatnya di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, terdapat sebuah gerakan tarekat yaitu orang- orang yang mengkhususkan pada pembinaan dan pengarahan spiritual keagamaan. Tarekat ini didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya Dinasti Usmani. Kerajaan Shafawi menurut C.E Bosworth berdiri secara resmi diPersia (1501 M/ 907 H).  Ismail Ibn Haidar (Ismail I ) dinobatkan menjadi khalifah pertama dinasti Shafawi. Ismail Ibn Haidar mengklaim dirinya sebagai titisan para Imam Syi’ah, penjelmahan Tuhan, sinar ke-Tuhanan dari imam tersembunyi, dan Imam Mahdi.Mengenai asal kata Shafawi terjadi perbedaan pendapat.
Menurut Sayid Amir Ali yang dikutip Ajid Thohir (2004:167), kata Shafawi berasal dari kata shafi, suatu gelar bagi nenek moyang raja-raja Shafawi’ Shafi Al-Din Ishak Al-Ardabily, pendiri dan pemimpin tarekat Shafawi. Amir Ali beralasan, bahwa para mufasir, pedagang dan penulis Eropa selalu menyebut raja- raja Shafawi dengan gelar Shafi Agung. Sedang menurut pendapat lainnya Shafawi berasal dari kata Shafi , yaitu bagian Dari dari nama Shafi al-Din Ishak al-Ardabily sendiri. Senada dengan ini, Taufik Abdullah di dalam Ensiklopedi Tematis, menjelaskan, bahwasannya kerajaan Shafawi didirikan oleh Syekh Ismail (950 H/1501M),[5] dinisbahkan kepada tarekat Shafawiyah yang didirikan oleh Shafi al-Din Ishak (650 H/1252 M) Di Ardabil pada 1300-an.
Para sejarawan yang mendukung terhadap gerakan tarekat ini memegang penisbatan tersebut kepada kitab Shafwat al-Shafa yang ditulis oleh Ibnu Bazzaz, salah seorang penduduk Ardabil. Dia menulis kitab tersebut pada masa Syeikh Shafi al-Din Ishaq. Syeikh kemudian memerintahkan Ibnu Bazzaz untuk menyambungkan nasabnya ke ahlul Bait, mencontoh gurunya Taaj al-Din Ibrahimal-Jailani. Hal ini dilakukakannya karena masa itu alawiyyin (Syi’ah) sedang berpengaruh dan mendominasi pemikiran dan mazhab di Persia kala itu. Namun demikian, keturunannya tetap meyakini kebenaran sislilah tersebut sehingga hal ini menjadi dasar penetapan tarekat dan Dinasti Safawi bermazhab Syi’ah. Berbeda dengan dua kerajaan besar Islam lainnya, Usmani dan Mughal, dinasti Safawi menyatakan Syi’ah sebagai mazhab negara. Sebab itu, tidak keliru bila dinasti ini dinilai sebagai peletak pertama dasar terbentuknya negara Iran dewasa ini.Safi al-Din sebenarnya keturunan orang kaya, tapi
dia memilih suf sebagai jalan hidupnya. Gurunya bernama Taj al- Din Ibrahim Zahidi (1216-1301M) yang dikenal dengan julukan Zahid. Karena prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, lalu Safi al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Menurut Hamka, Safi al-Din mendirikan tarekat Safawi setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 H. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawi bertujuan memerangi orang-orang ingkar, kemudian memerangi golongan yang mereka sebut “ahli-ahli bid’ah”. Tarekat ini semakin penting terutama setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri- negeri di luar Ardabil, Safi al-Din menempatkan seorang wakil yang memimpin murid-muridnya. Wakil itu diberi gelar “khalifah”.
Setelah tarekat ini melebarkan sayapnya hingga diterima oleh sebagian besar kota-kota di Persia, selanjutnya tarekat ini mengubah model gerakan, dari gerakan spiritual keagamaan menjadi gerakan politik. Hal ini cukup beralasan,karena suatu ajaran agama yang dipegang secara fanatik biasanya kerapkali menimbulkan keinginan di kalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa. Karena itu, lama kelamaan murid- murid tarekat Safawi berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syi’ah. Perubahan arah gerakan tarekat
ini bukan sekedar isapan jempol. Terbukti kecenderungan memasuki dunia politik itu mendapat wujud konkritnya pada masa tarekat di bawah kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Tarekat Safawi memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini tidak berjalan mulus tapi dapat penentangan dari penguasa politik saat itu bahkan hingga menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu.
B.     Perkembangan Dinasti Safawi Sejak Shafi al-Din
Memulai memimpin Ribath dan mendirikan tarekat Shafawiyah pada tahun 1303 M sampai kepada Syah Ismail I memproklamirkan berdirinya kerajaan Shafawi pada 1501 M, telah banyak pengalaman keluarga Shafawi dalam perjuangan menegakkan cita- cita selama dua abad itu. Palingtidak, ada dua tahap perjuangan yang dilalui mereka. Pertama, sebagai gerakan keagamaan (kultural) dan kedua, sebagai gerakan politik (struktural). Pada masa 1301-1447 M (700-850 H) gerakan Shafawi masih murnigerakan keagamaan (kultural) dengan tarekat Shafawiyah sebagai sarananya. Selama masa ini Shafawi memiliki pengikut yang besar, tidak hanya di Persia tetapi juga sampai ke Syiria dan Anatolia. Mayoritas pengikutnya adalah suku-suku Turki yang masih semi nomad yang dikenal dengan sebutan Turkman yaitu diantaranya suku Ustajlu, Rumlu, Shamlu, Dulgadir, Takkalu, Ashfar, dan Qojar.
Gerakan Shafawiyah pada fase peretama ini tidak mencampurkan masalah politik sehingga ia berjalan dengan aman dan lancar, baik pada masa Ikhwan maupaun pada masa penjarahan Timur Lenk. Pada masa itu kehidupan tarekat sufi dapat tumbuh subur dan mendapat simpati masyarakat, karena masyarakat sudah banyak yang bersikap apatis menyikapi konstelasi politik yang suram itu. Masyarakat berharap hanya dengan kehidupan sufisme mereka mendapat kekuatan mental dan menjalin persaudaraan antar muslim. P.M. Holt, yang dikutip Ajid Thohir (2004:170) ia berpendapat selama fase pertama gerakan Shafawi memilki dua warna. Pertama, bernuansa Sunni. Yaitu pada masa pimpinan Shafiudin Ishak (1303-1344) dan anaknya Shadrudin Musa (1344-1399). Kedua, berubah menjadi Syi’ah pada masa pimpinan Khawaja Ali anak Shadruddin (1399-1427). Perubahan tersebut tampaknya wajar karena disamping alasan yang sudah disebutkan, juga kemungkinan karena bertambahnya pengikut Shafawiyah di kalangan Syi’ah sehingga kepemimpinan menyesuaikan diri dengan aliran mayoritas.
Pada masa (1447-1501), gerakan Shafawi memasuki tahap atau fase kedua, yaitu sebagai gerakan politik. Pemimpin Shafawi waktu itu adalah Junaid bin Ali mengubah gerakan politik revolusioner dengan tarekat Shafawiyah sebagai sarananya. Konsekuensinya Shafawi mulai terlibat dalam konflik politik dengan kekuatan politik lain yang ada di Persia saat itu. Pada saat itu ada dua kerajaan Turki yang saat itu berkuasa yaitu Kara Koyunlu atau Black Sheep yang berkuasa di bagian timur dan Ak Koyunlu atau White Sheep yang berkuasa di bagian barat. Yang pertama beraliran Sunni sementara yang kedua beraliran Syi’ah. Disebabkan kegiatan politiknya, Junaid, pemimpin Shafawi meninggalkan Ardabil karena mendapat tekanan dari kerajaan Kara Koyunlu yang berkuasa di daerah itu. Ia juga meminta suaka politik kepada raja Ak Koyunlu yang sekaligus meminta bantuan untuk bersama-sama menghadapi Kara Koyunlu. Perubahan Shafawi dari gerakan keagamaan berubah menjadi gerakan politik cukup menarik karena sebagai tarekat sufi yang lebih bersifat ukhrawi kemudian menjadi gerakan duniawi. Faktor utama penyebab adanya perubahan tersebut adalah ada pada ajaran tarekat itu sendiri, yaitu hubungan para pemimpin tarekat dengan para pengikutnya. Anggota tarekat harus tunduk secara mutlak kepada pemimpin mursyid dan khalifah itu. Hal ini bisa dijadikan modal awal untuk membangun suatu pemerintahan yang dibangun dengan sikap fanatik dan fanatis untuk mendukung memuluskan tegaknya pemerintahan. 3. Kemajuan Dinasti Safawi Masa kemajuan dan kejayaan dinasti Shafawi tidak langsung terwujud pada saat dinasti berdiri di bawah kepemimpinan Syakh Ismail, dinasti pertama(1501-1524 M). Dinasti Shafawi baru mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan Abbas I. Secara politik, ia mampu mengatasi berbagai kemelut didalam negeri yang mengganggu stabilitas. Negara dan berhasil merebut kembali wilayah- wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya.
Kemajuan yang dicapai kerajaan safawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Menurut Badri Yatim, di bidang yang lain, kerajaan ini juga mengalami berbagai kemajuan. Kemajuan-kemajuan itu adalah antara lain sebagai berikut:
1.      Bidang Ekonomi
Stabilitas politik kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi bandar Abbas. Dengan dikuasainya bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi milik kerajaan. Di samping sektor perdagangan kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian, terutama di daerah bulan sabit subur (Fortile Crescent ).
2.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam sejarah Islam, bangsa Persia sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut. Ada bebrapa ilmuan yang selalu hadir di mejelis istana yaitu Baha al- dinal-syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-din al- zaerazi, filosof, dan Muhammad Bakir ibn Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah. Dalam bidang ini, kerajaan Safawi mungkin dapat dikatakan lebih berhasil dari dua kerajaan besar Islam lainnya pada masa yang sama.
3.      Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut berdiri bangunan- bangunan besar lagi indah seperti masjid-masjid, rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa, di atas Zende Rud, dan istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang ditata secara apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 16 mesjid, 48 akademi, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum. Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur  bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada masjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan masjid Syeikh Lutf Allah yang dibangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmaps I. Raja Ismail I pada tahun 1522 M membawa seorang pelukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhad. Demikianlah puncak kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Safawi. Setelah itu, kerajaan ini mulai mengalami gerak menurun. Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar Islam yang disegani oleh lawan-lawannya, terutama dalam bidang politik dan militer. Walaupun tidak setaraf dengan kemajuan Islam di masa klasik, kerajaan ini telah memberikan kontribusinya mengisi peradaban Islam melalui kemajuan- kemajuan dalam bidang ekonomi,
ilmu pengetahuan, peninggalan seni, dan gedung- gedung bersejarah.
C.    Kemunduran Dan Akhir Dinasti Safawi
Menurut Jaih Mubarok, setelah Abbas I, dinasti Safawi mengalami kemunduran. Sulaiman, pengganti Abbas I, melakukan penindasan dan pemerasan terhadap Sunni dan memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka. Penindasan semakin parah terjadi pada zaman Sultan Husein, pengganti Sulaiman. Penduduk Afgan (saat itu bagian dari Iran) dipaksa untuk memeluk Syi’ah dan ditindas.  Penindasan ini melahirkan pemberontakan yang dipimpin oleh Mahmud Khan(Amir Kandahar) sehingga berhasil menguasai Herat, Masyhad, dan kemudian merebut Isfahan (1772 M). Setelah itu, Safawi diserang oleh Turki Usmani dan Rusia. Wilayah Armenia dan beberapa wilayah Azerbaijan direbut oleh Turki Usmani. Sedangkan beberapa wilayah propinsi laut Kaspia di Jilan, Mazandaran, dan Asterabad direbut oleh Rusia. Setelah sebagian besar wilayah dikuasai oleh Afgan, Turki Usmani dan Rusia, Nadir Syah (dinasti Ashfariyah) karena mendapat dukungan dari dari suku Zand di Iran Barat – menundukan dinasti Safawi. Nadir Syah (bergelar Syah Iran) memadukan Sunni-Syi’ah untuk mendapat dukungan dari Afgan dan Turki Usmani; dan ia mengusulkan agar madzhab fiqih Ja’fari (Syi’ah) dijadikan madzhab hukum yang kelima oleh ulama Sunni. Dinasti Safawi pimpinan Nadir Syah kemudian ditaklukan oleh dinasti Qajar.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Satu hal yang menarik dari sejarah Dinasti Safawi bahwa dinasti ini bermula dari gerakan keagamaan berupa tarekat. Setelah mengalami penerimaan yang massif di tengah-tengah masyarakat dan kota-kota di Persia, gerakan keagamaan tersebut mengubah model gerakannya menuju gerakan politik. Seolah menjadi hukum alam dan sosial, suatu kelompok bila sudah banyak pengikut dan pendukungnya, mereka ingin untuk memperluas gerakannya ke arah yang lebih berkuasa dan berpengaruh yaitu kekuasaan politik. Tradisi dan ambisi model ini bisa menimpa kelompok dan gerakan apa saja, baik pada masa dulu maupun masa kini. Semua mempunyai potensi ke arah tersebut. Ini pula yang dialami Dinasti Safawi, sekalipun harus berhadapan dengan kekuatan besar penguasamasa itu, Dinasti Usmani. Kemajuan yang dicapai dinasti Shafawi ada beberapa bidang yaitu : bidang ekonomi, bidang ilmu pengetahuan,
dan bidang pembangunan fisik dan seni. Kemunduran dinasti Shafawi, dimulai ketika dipimpin oleh raja Sulaiman dan Husain. Raja Sulaiman melakukan penindasan dan pemerasan terhadap Sunni dan memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka. Penindasan semakin parah terjadi pada zaman Sultan Husein. Penindasan ini melahirkan pemberontakan dan inilah yang menjadi salah satu penyebab runtuhnya dinasti Safawi.
B.     Saran
Pemakalah sangat menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah mau pun materi yang di sampaikan, oleh karena itu kami para pemakalah sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para  pembaca sekalian agar kedepannya kami bisa lebih baik dalam menyajikan sebuah makalah.





DAFTAR PUSTAKA
Ø  Harun Nasuton, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah, Pemikiran dan
Gerakan, Cet. ke-12 (Jakarta; Bulan Bintang, 1975)
Ø  Karen Amstrong, Islam Shor History, Terjemahan Sepintas Sejarah Islam, (Yogyakarta; Ikon Teralitera, 2003)
Ø  Perkembangan Peradaban di kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Grafindo Persada, 2004 Teralitera, 2003)
Ø  Taufik Abdullah dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam’ Khalifah , PT Ichtiar Baru Van Hoeve, jilid
Ø  Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid III, (Bulan Bintang; Jakarta, 1981)
Ø   Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2000